Sesudah lulus, sebelum memasuki dunia kerja, memang aku berencana untuk jalan-jalan. Bahkan mungkin rencana jalan-jalan ku lah yang bisa membuatku ingin cepat-cepat lulus, padahal bisa dibilang di semester ini aku paling sering jalan-jalan. Tidak tahu mengapa, justru di semester-semester akhir aku baru kepikiran untuk jalan-jalan. Sempat menyesal juga kenapa aku tidak melakukan ini sejak liburan awal kuliah.
Setelah sidang, alhamdulillah aku bisa ikut jalan-jalan bersama anak-anak Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra ke pulau seribu. Awalnya liburan ke pulau seribu ini dilakanakan sebelum tanggal sidangku, tapi karena peserta yang ikut sedikit, jadwal kepergian ke pulau seribu diundur, dan aku bisa ikut!!
Merasa masih ingin liburan, kebetulan ada momen yang pas, yaitu pada saat teman seangkatanku di elektro UI melangsungkan acara pernikahannya. Anak ini ialah orang yang pertama menikah diangkatanku, sehingga kami merencanakan untuk pergi kesana bersama-sama.
Kupikir, menghadiri pernikahan temanku tersebut merupakan jalan-jalanku tahap 2 setelah sidang. Tiba-tiba pada suatu pagi hari aku sedang iseng-iseng membaca koran. Kulihat ada promosi untuk penerbangan ke singapore dengan harga yang sangat murah dengan Mandala. Berdasarkan iklan tersebut, hanya Rp 9000,- saja untuk ke singapore. Aku langsung iseng saja mengecek situsnya, dan ternyata BENAR adanya. Terdapat tiket super duper murah itu. Dengan berbagai kendala yang ada, dan berbagai pertimbangan, akhirnya aku berhasil mendapatkan tiket Jakarta - Singapura pp dengan hanya Rp 258.000,- saja!! Ternyata inilah liburanku tahap 2 setelah sidang. Menariknya, aku merasa sedikit gila sebenarnya, karena pergi jalan-jalan di negara sendiri saja belum pernah sendirian, kali ini aku pergi ke negara orang sendirian saja.
Setelah sidang, alhamdulillah aku bisa ikut jalan-jalan bersama anak-anak Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra ke pulau seribu. Awalnya liburan ke pulau seribu ini dilakanakan sebelum tanggal sidangku, tapi karena peserta yang ikut sedikit, jadwal kepergian ke pulau seribu diundur, dan aku bisa ikut!!
Merasa masih ingin liburan, kebetulan ada momen yang pas, yaitu pada saat teman seangkatanku di elektro UI melangsungkan acara pernikahannya. Anak ini ialah orang yang pertama menikah diangkatanku, sehingga kami merencanakan untuk pergi kesana bersama-sama.
Kupikir, menghadiri pernikahan temanku tersebut merupakan jalan-jalanku tahap 2 setelah sidang. Tiba-tiba pada suatu pagi hari aku sedang iseng-iseng membaca koran. Kulihat ada promosi untuk penerbangan ke singapore dengan harga yang sangat murah dengan Mandala. Berdasarkan iklan tersebut, hanya Rp 9000,- saja untuk ke singapore. Aku langsung iseng saja mengecek situsnya, dan ternyata BENAR adanya. Terdapat tiket super duper murah itu. Dengan berbagai kendala yang ada, dan berbagai pertimbangan, akhirnya aku berhasil mendapatkan tiket Jakarta - Singapura pp dengan hanya Rp 258.000,- saja!! Ternyata inilah liburanku tahap 2 setelah sidang. Menariknya, aku merasa sedikit gila sebenarnya, karena pergi jalan-jalan di negara sendiri saja belum pernah sendirian, kali ini aku pergi ke negara orang sendirian saja.
Jadwal penerbangan yang cukup kurang mengenakkan cukup membuatku takut. Karena aku akan sampai di singapura pada jam 23.20, dan waktu kembalinya jam 06.25 pagi. Mau tidak mau, harus naik taksi apabila ingin keluar dari bandara. Tapi, setelah browsing sana-sini, aku akhirnya memutuskan untuk tidur di bandara saja, hitung-hitung hemat pengeluaran.
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, 28 Juli 2010. Budgetku untuk jalan-jalan kali ini memang tidak banyak untuk seorang yang bepergian keluar negeri. Aku menukarkan uang rupiahku dan mendapatkan 150 dolar singapura. Semoga ini cukup untuk keperluanku selama 2 hari full ditambah 2 hari jam tanggung pada saat aku berangkat dan pulang. Aku sempatkan diriku tidur siang sebelum berangkat. Sebelumnya, aku telah memesan xtrans untuk menuju bandara pukul 5 sore walaupun jadwal penerbanganku 20.40.
Bangun dari tidur, kulanjutkan mempersiapkan segala sesuatu yang harus disiapkan. Masih agak terburu-buru pada akhirnya tetapi akhirnya semua siap dan aku diantar ayahku ke tempat xtrans. Sesampainya disana aku langsung membayar tiket mahasiswa, lalu duduk sebentar untuk menunggu keberangkatan. Ku telpon ibuku untuk pamit, dan selang beberapa saat, xtans akan berangkat. Sebelum naik aku pamit ke ayahku, "jangan lupa sholat" begitu katanya.
Perjalanan menuju bandara sore itu cukup padat. Kalau biasanya aku mengantar ibuku pada pagi dini hari hanya sekitar 45 menit paling lama, sore itu perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit. Setelah memasuki area bandara melalui pintu belakang, supir pun membelokkan mobilnya untuk menuju terminal 2 terlebih dahulu. Aku bersiap-siap turun. Tidak lama, mobil xtrans pun sampai di terminal 2E atau terminal internasional. Aku dan beberapa penumpang lain turun dari mobil. Aku sedikit tegang karena sangat takut apabila masalah bebeas fiskal ku bermasalah. Aku tidak memakai npwp milik ku sendiri, melainkan memakai milik ibuku. Setelah berjalan beberapa saat, dan barang bawaanku diperiksa, akhirnya aku menemukan counter check-in untuk Mandala. Mengantri beberapa orang, akhirnya aku mendapatkan boarding pass. Ya, tahap pertama mendapatkan tiket selesai. Selanjutnya adalah tahap yang paling aku takuti, yaitu tahap untuk meminta cap bebas fiskal di boarding pass ku.
Karena tidak sempat mengurus NPWP untuk diriku sendiri, aku memutuskan untuk memakai NPWP milik ibuku. Aku tidak begitu mengerti mengenai peraturan ini sebenarnya, dari beberapa yang kubaca hanya menerangkan bahwa bebas fiskal dapat didapatkan dengan membawa foto kopi NPWP milik orang tua dan membawa foto kopi kartu keluarga. Kupikir, kedua syarat tersebut sudah kupenuhi. Tetapi, setelah aku berhadapan dengan petugas pajak, katanya hanya bisa menggunakan NPWP milik kepala keluarga atau ayah. Wah, kalau tidak bisa mendapatkan bebas fiskal ini, aku tidak akan jadi berangkat karena mahal sekali biayanya. Bahkan budgetku untuk jalan-jalan kali ini tidak mencapai jumlah yang harus dibayarkan apabila diharuskan membayar fiskal. Sempat bingung harus bagaimana, sayang sekali kalau rencana ini gagal. Akhirnya kuberanikan diriku untuk menghadap ke bagian bebas fiskal, dan dengan beberapa percakapan, akhirnya kudapatkan bebas fiskal. huaah.. leganya..
Sambil menuggu waktu boarding, aku berputar-puter saja di lorong terminal 2 bandara Soekarno-Hatta setelah sebelumnya menyempatkan untuk sholat maghrib. Sampai akhirnya mendekati waktu boarding, aku menyempatkan untuk membeli snack kecil dan minuman kecil untuk ku minum di tempat tersebut saja. Waktu yang ditentukan akhirnya tiba, aku masuk ke ruangan E4 untuk menunggu boarding. Sudah ada beberapa orang yang masuk di ruangan tersebut. Kulihat keluar pesawat yang akan mengangkutku sudah ada, sebuah Airbus A-320 sudah menungguku diluar sana. Beberapa saat kemudian, aku mulai bergerak memasuki garbarata. Mulai mencari nomor kursi yang aku duduki, meletakkan tas ranselku di bagasi atas, lalu duduk di kursiku.
Disekitarku duduk rombongan eksekutif muda, kira-kira umur 30-an. Rombongan ini sangat berisik sekali. Kupikir aku akan duduk dibagian yang tenang, sehingga aku dapat tidur dengan nyenyak untuk menabung waktu tidur tetapi ternyata tidak. Rombongan tersebut mengobrol, dan karena pesawat tidak penuh, mereka duduk hampir mengitariku. Mulai dari menggoda para pramugari, sampai berdiskusi mengenai kesibukan mereka. Sekumpulan orang-orang ini memang cukup mengganggu walaupun akhirnya aku bisa terlelap juga.
Sekitar satu jam kemudian aku terbangun. Kulihat ke jendela luar, masih gelap. Hanya ada titik-titik cahaya yang nyaris tidak tampak, seperti bintang dilangit yang redup karena polusi cahaya bumi. Aku beranjak ke kamar kecil yang terletak di ekor pesawat. Beberapa penumpang tampak terlelap, tidak termasuk para gerombolan eksekutif muda tadi. Pada saat aku ingin kembali ke kursiku, ternyata sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk menggunakan toilet, padahal aku hanya sebentar saja. Entah karena aku baru bangun, atau tekanan udara luar yang kurang begitu baik, kurasakan guncangan-guncangan kecil. Hampir persis seperti yang kurasakan pada saat aku ke Batam untuk Kerja Praktik bulan Januari tahun lalu.
Setelah kembali duduk di kursiku, aku kembali melihat keluar, ternyata sudah nampak kumpulan cahaya disana-sini. Kutaksir yang kulihat adalah pulau Batam. Sepertinya jalan yang kulihat adalah jalan yang sehari-hari kulewati pada jaman KP dulu dari mess di Baloi ke kantor yang ada di daerah Tembesi menuju jalan barelang. Ya, sepertinya yang kulihat adalah tempat aku KP yaitu PT. MEB. Makin terlihat jelas jalan Barelang, pertigaan tembesi lalu selanjutnya pertigaan ke arah kabil. Selanjutnya kurasa aku melihat jalan ke arah simpang jam dan pada akhirnya, sepertinya aku melihat Batam Centre dengan pelabuhan internasionalnya. Semuanya itu hanya dalam beberapa detik saja. Selanjutnya pilot mengumumkan akan segera mendarat. Pesawat sempat berputar-putar sebentar, dan akhirnya pesawat telah mendarat di Bandara Internasional Changi, Singapura.
Karena tidak sempat mengurus NPWP untuk diriku sendiri, aku memutuskan untuk memakai NPWP milik ibuku. Aku tidak begitu mengerti mengenai peraturan ini sebenarnya, dari beberapa yang kubaca hanya menerangkan bahwa bebas fiskal dapat didapatkan dengan membawa foto kopi NPWP milik orang tua dan membawa foto kopi kartu keluarga. Kupikir, kedua syarat tersebut sudah kupenuhi. Tetapi, setelah aku berhadapan dengan petugas pajak, katanya hanya bisa menggunakan NPWP milik kepala keluarga atau ayah. Wah, kalau tidak bisa mendapatkan bebas fiskal ini, aku tidak akan jadi berangkat karena mahal sekali biayanya. Bahkan budgetku untuk jalan-jalan kali ini tidak mencapai jumlah yang harus dibayarkan apabila diharuskan membayar fiskal. Sempat bingung harus bagaimana, sayang sekali kalau rencana ini gagal. Akhirnya kuberanikan diriku untuk menghadap ke bagian bebas fiskal, dan dengan beberapa percakapan, akhirnya kudapatkan bebas fiskal. huaah.. leganya..
Sambil menuggu waktu boarding, aku berputar-puter saja di lorong terminal 2 bandara Soekarno-Hatta setelah sebelumnya menyempatkan untuk sholat maghrib. Sampai akhirnya mendekati waktu boarding, aku menyempatkan untuk membeli snack kecil dan minuman kecil untuk ku minum di tempat tersebut saja. Waktu yang ditentukan akhirnya tiba, aku masuk ke ruangan E4 untuk menunggu boarding. Sudah ada beberapa orang yang masuk di ruangan tersebut. Kulihat keluar pesawat yang akan mengangkutku sudah ada, sebuah Airbus A-320 sudah menungguku diluar sana. Beberapa saat kemudian, aku mulai bergerak memasuki garbarata. Mulai mencari nomor kursi yang aku duduki, meletakkan tas ranselku di bagasi atas, lalu duduk di kursiku.
Disekitarku duduk rombongan eksekutif muda, kira-kira umur 30-an. Rombongan ini sangat berisik sekali. Kupikir aku akan duduk dibagian yang tenang, sehingga aku dapat tidur dengan nyenyak untuk menabung waktu tidur tetapi ternyata tidak. Rombongan tersebut mengobrol, dan karena pesawat tidak penuh, mereka duduk hampir mengitariku. Mulai dari menggoda para pramugari, sampai berdiskusi mengenai kesibukan mereka. Sekumpulan orang-orang ini memang cukup mengganggu walaupun akhirnya aku bisa terlelap juga.
Sekitar satu jam kemudian aku terbangun. Kulihat ke jendela luar, masih gelap. Hanya ada titik-titik cahaya yang nyaris tidak tampak, seperti bintang dilangit yang redup karena polusi cahaya bumi. Aku beranjak ke kamar kecil yang terletak di ekor pesawat. Beberapa penumpang tampak terlelap, tidak termasuk para gerombolan eksekutif muda tadi. Pada saat aku ingin kembali ke kursiku, ternyata sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk menggunakan toilet, padahal aku hanya sebentar saja. Entah karena aku baru bangun, atau tekanan udara luar yang kurang begitu baik, kurasakan guncangan-guncangan kecil. Hampir persis seperti yang kurasakan pada saat aku ke Batam untuk Kerja Praktik bulan Januari tahun lalu.
Setelah kembali duduk di kursiku, aku kembali melihat keluar, ternyata sudah nampak kumpulan cahaya disana-sini. Kutaksir yang kulihat adalah pulau Batam. Sepertinya jalan yang kulihat adalah jalan yang sehari-hari kulewati pada jaman KP dulu dari mess di Baloi ke kantor yang ada di daerah Tembesi menuju jalan barelang. Ya, sepertinya yang kulihat adalah tempat aku KP yaitu PT. MEB. Makin terlihat jelas jalan Barelang, pertigaan tembesi lalu selanjutnya pertigaan ke arah kabil. Selanjutnya kurasa aku melihat jalan ke arah simpang jam dan pada akhirnya, sepertinya aku melihat Batam Centre dengan pelabuhan internasionalnya. Semuanya itu hanya dalam beberapa detik saja. Selanjutnya pilot mengumumkan akan segera mendarat. Pesawat sempat berputar-putar sebentar, dan akhirnya pesawat telah mendarat di Bandara Internasional Changi, Singapura.
0 comments:
Post a Comment