12.4.11

The Transfer Flight

Kisah kali ini, bermula dari kepergian ku bersama anak-anak Mahawaditra ke Kuala Lumpur untuk menyaksikan konser Malaysian Philharmonic Orchestra dengan tema "Tribute to John Williams" yang diselenggarakan oleh Dewan Filharmonik Petronas. Rencana ini memang sudah di rencanakan sejak lama kira-kira pada bulan Desember 2010. Walaupun awalnya hanya selentingan beberapa orang saja, sampai akhirnya memberanikan diri untuk membeli tiket nonton seharga 25 MYR. Bulan Januari 2011 Air Asia mengadakan promo untuk bulan Maret. Aku dan beberapa orang lain mendapatkan tiket dengan harga yang cukup murah, hanya 155 ribu rupiah saja untuk sekali jalan. Karena satu dan lain hal, aku hanya membeli tiket berangkatnya saja.

Hari keberangkatan semakin dekat, aku masih belum mempunyai tiket untuk kembali ke jakarta. Akhirnya aku memutuskan untuk naik maskapai KLM karena harganya lebih murah dibandingkan harga tiket AirAsia tujuan KL Jakarta pada saat itu. KLM merupakan maskapai eropa, jadi setidaknya lebih enak lah ya dari pada AirAsia, apalagi dengan harga yang lebih murah.

Dua hari di KL bersama Mahawaditra rasanya berlalu begitu cepat. Cukup banyak canda tawa dan berbagai kejadian yang terlalu banyak jika kutuliskan disini. Sampai pada suatu saatnya tiba, aku harus kembali ke Jakarta. Aku, Kirana, dan Tami kembali ke Jakarta dengan menggunakan KLM, sedangkan Mas Bowo, yoga, yogi, anda, andi, innes, Mba Chris, dan Tamya kembali ke Jakarta dengan menggunakan Air Asia. Kami berpisah di KL sentral.


Tiba-tiba ditengah perjalanan menuju KLIA aku mendapatkan dari nomor yang tak dikenal. Entah ini karena telpon dari luar negeri, entah bagaimana, intinya yang muncul di layar handphone ku hanya (no number). Tanpa pikir panjang, aku langsung angkat. Seorang perempuan bernada bicara melayu india berbahasa inggris menerangkan kalau dirinya dari perwakilan KLM dan memberitahukan kalau penerbagan ku ke jakarta di transfer ke maskapai lain karena masalah teknis. Cukup sulit bagiku untuk mengetahui pembicaraan yang dikatakan oleh orang ini, intinya perjalananku berubah menjadi KUL - SIN dengan menggunakan Silk Air jam 10 malam, dan selanjutnya SIN - CGK dengan menggunakan Cathay Pacific jam 1 malam.

Email pemberitahuan ku terima. Ya benar, seperti yang telah dijelaskan. Aku harus berpindah maskapai karena KLM ada masalah teknis. Tami yang sudah check-in online sebelumnya cukup kebingungan apakah dia juga terkena dampak ini. Kami bertiga cukup senewen sore itu, termasuk 2 orang teman Tami yang mengantarkan kami ke bandara KLIA. Sesampainya di KLIA, aku langsung mencari tempat check-in untuk KLM. Barisan orang yang akan check-in sudah panjang sekali. Begitu ada tempat yang kosong, langsung aku datangi untuk menanyakan mengenai penerbanganku.

Ternyata tidak semua penumpang dipindahkan ke penerbangan lain. Masih ada yang tetap naik KLM pada jam tersebut, seperti Tami. Aku semakin kebingungan, firasatku mengatakan sepertinya aku memang harus menunggu lama untuk penerbangan jam 10 di KLIA ini. Tapi entah mengapa aku sangat ingin mengusahakan untuk mendapatkan penerbangan yang lebih cepat ke singapore. Akhirnya aku membagi tugas, Kirana tetap mengantri di barisan check-in, dan aku mengantri di meja bagian customer service KLM.

Tak sedikit yang mengantri untuk menanyakan masalah penggantian flight ini. Banyak juga orang-orang indonesia disana, alhasil antrian semakin tidak jelas. Ada seorang ketua rombongan yang membawa tumpukan paspor ditangannya. Ada juga seorang bapak yang dari pembicaraannya terlihat seperti ingin menunda penerbangan sampai esok hari. Aku sendiri mencoba tetap mengantri dan berdiri di sebelah seorang ibu yang juga akan menunda penerbangan sampai esok hari. Dibelakangku berdiri seorang bapak ras cina yang sepertinya seorang malaysian. Terjadi sedikit pembicaraan antara aku dan bapak Malaysian ini.

M: "yu dah tentukan pilihan?"
A: "sure, i'll going to jakarta today"
M: "yu ambil flight transi' singapo'r? sampai di jakarta malam hari?"
A: "ya, karena tak ada pilihan lain, but i want to ask if maybe there's another flight earlier to singapore"
M: "oo.. i see i see.. yes, yu'r rait, its bette in changi than in KLIA, yu hef gud chois!"

Bahkan si orang Malaysia ini mengatakan lebih baik di Changi dari pada di KLIA. Entah mengapa, walaupun aku belum pernah berlama-lama di KLIA, aku merasa lebih nyaman di Changi. Mungkin juga karena aku pernah menghabiskan waktu semalaman di Changi sehingga aku lebih merasa hommy di Changi. Sepertinya giliranku dilayani sebentar lagi, aku memberi kode ke Kirana untuk keluar dari barisan dan menemaniku berbicara dengan representatif dari KLM.

Tiba-tiba datang seorang ibu yang menyerobotku dengan langsung bertanya "bla.. bla.. bla.." dalam Bahasa Indonesia. Aku sudah mafhum betul perilaku orang Indonesia yang cukup handal dalam serobot menyerobot. "wah, ngantri satu lagi deh nih" pikirku dalam hati. Tiba-tiba secara tak terduga bapak-bapak malaysian yang mengantri di belakangku membentak ibu yang menyerobot itu "hey, yu harus antri dari belakang, harusnya sekarang ini orang punya antrian (menunjuk saya), sesudah itu saya baru anda" ya kira-kira begitulah celoteh si bapak dengan logat melayu yang khas. Entah mengapa, aku cukup senang dibela oleh orang lain tentang antrian ini apalagi orang tersebut warga negara lain.

Akhirnya aku berkesempatan berbicara, ku bilang jika aku sudah mendapatkan e-mail mengenai pengalihan penerbangan, tapi aku ingin apakah ada penerbangan yang lebih awal ke Singapore. "Okay, let me check it first.." Jawab si mbak. Harap harap cemas juga menunggu hasil pencarian yang dilakukan. Entah kenapa, perasaanku mengatakan sepertinya aku bisa ke singapore lebih awal. Waktu sudah semakin sore. Sebenarnya ada pesawat ke Singapore lebih awal, tetapi waktu sudah habis untuk bisa booking ke flight tersebut. Aku kecewa, jika aku dilayani dari tadi, mungkin saja aku bisa mendapatkan flight lebih cepat. Dengan langkah gontai, aku dan Kirana meninggalkan counter tersebut sambil membawa hasil print out tiket kami.

Aku mulai membayangkan struktur bangunan KLIA ini, bagaimana denahnya, apa saja yang aku bisa lakukan sampai jam 10 nanti, kira-kira 5-6 jam lagi. Kami berjalan ke arah counter untuk check-in Silk Air. Nomor penerbanganku MI 339, tetapi kulihat tidak ada di semua jalur pengantrian. Yang tertera adalah MI 337, penerbangan ke singapore keberangkatan jam 6 sore. Dan terlihat cukup banyak yang mengantri untuk penerbangan tersebut. "Wah, coba bisa dapet penerbangan yang ini, pasti bisa cepet ke singapore-nya" pikirku. Sepertinya counter check-in untuk penerbangan kami belum dibuka. Kami berjalan-jalan di departure hall dari KLIA ini. Masih suram sekali pikiranku. Sambil menunggu kirana ke toilet, aku memperhatikan jadwal penerbangan.

Kuperhatikan dengan seksama flight schedule tersebut, ternyata ada beberapa penerbangan ke singapore mulai dari jam 5 sore, sampai jam 10 malam. Melihat ini, aku semakin penasaran. Ya, aku kembali ke counter tersebut untuk kembali menanyakan apakah bisa ke beberapa pesawat tersebut. Ku catat di handphone ku, dan aku siap kembali menghadap mbak-mbak yang di counter tersebut.

Aku: "mbak, mbak, saya liat di jadwal penerbangan ada beberapa penerbangan ke singapore, bisa gak saya di switch ke penerbangan itu?"
Si mbak: "wah, maaf pak, mungkin anda melihat banyak penerbangan di flight schedule, tapi sebenarnya berbeda jika saya melihat dari sistem. Berdasarkan sistem kami, kami tidak bisa membuking untuk penerbangan tersebut. Semua jadwal telah penuh"

Mbak-mbak ini menjawab pertanyaanku dengan sangat sabar. Aku cukup puas dengan jawaban tersebut. Sepertinya memang aku harus di KLIA sampai jam 10 malam. Yang penting aku sudah berusaha, kalau hasilnya memang demikian, ya aku hanya bisa pasrah saja. Sampai saat itu, aku dan kirana masih belum memberitahu orang tua kami. Aku masih bingung dan rasanya tidak rela.

Di bagian check-in untuk Silk Air, penerbangan MI 339 belum muncul. Atas saran si mbak KLM, kami check in saja. Lembaran tiket hasil print ku tunjukkan. Iseng-iseng aku bertanya ke petugas check in.

Aku: "Mbak, apa penerbangan ke singapore yang sekarang penuh?"
Mbak SA: "hmm.. Gak terlalu penuh kok"
Aku: "oh ya? Bisa nggak kita ikut di penerbangan yang sekarang? (MI 337, jalan jam 6 sore)"
Mbak: "I'm not sure, let me recheck about this"

Mbak SA kembali mengoperasikan komputernya. Beberapa kali menulis-nulis sesuatu dengan keyboard, beberapa kali juga si mbak memilih sesuatu dengan mouse. Aku makin deg-deg-an. Dalam bayanganku, tetap saja rasanya ingin sekali bisa tiba di Singapore lebih cepat. Selang beberapa saat, Si Mbak SA memberikan kabar yang sedikit menyenangkan. Sepertinya aku bisa ikut penerbangan itu, tapi si Mbak akan mengkonfirmasi terlebih dahulu ke atasan beliau. Mbak SA meninggalkan counter check-in menuju bagian pojok dari row tersebut. Aku semakin tidak sabar mendengar kabar selanjutnya.

Aku dan kirana masih menunggu di counter tersebut. Aku berjanji akan sujud syukur kalau memang benar bisa ikut penerbangan MI 337. Tampaknya memang sedikit berlebihan, tapi mau bagaimana lagi, aku harus berusaha semaksimal mungkin.
Mbak SA kembali berjalan ke arah kami.

Mbak SA: “OK, kamu bisa ikut penerbangan ini, tapi saya gak bisa janji kalian duduk bersebelahan ya..”

Alhamdulillah, ternyata perjuangan ku tidak sia sia. Setelah mendapatkan boarding pass, kami mengucapkan terima kasih ke mbak counter silk air. Ternyata aku dan Kirana bisa duduk bersebelahan. Rasanya aku beruntung sekali sore itu.

Singkat cerita, sore itu aku memang tidak jadi naik maskapai KLM, tetap sebagai gantinya, aku bisa mencoba 2 maskapai luar negeri yang berbeda, Cathay Pacific, dan Silk Air. Selain itu, kami berdua juga mendapatkan travel voucher dari KLM sebesar 75 Euro. Bisa dibilang, tiket kami terhitung gratis. Setelah sampai di Jakarta, aku iseng mengecek harga tiket untuk 2 penerbangan yang aku naiki yaitu KL – SIN dan SIN – CGK. Total harga tiket untuk dua penerbangan tersebut sekitar 7 juta rupiah, biaya yang tidak sedikit tentunya.

Sebelum berangkat ke KL, aku sempat berkeinginan untuk menjelajahi Changi Airport lagi setelah sebelumnya aku sempat menjelajah tempat itu sendirian. Dan keinginanku terkabul malam itu. Walaupun lelah, baru sampai di rumah jam 3 pagi dini hari, dan paginya harus langsung ke kantor aku tetap senang dan tentunya ini memberikan pelajaran baru bagiku. Allah bukan tidak sayang kepada hambanya, tapi mungkin Allah punya rencana lain yang tidak diketahui.. :D

1 comments:

Daus said...

wow, aku tak membayangkan bagaimana berada di posisimu
Aku tak yakin akan seberani dan setenang kau
Untungnya, aku udah pernah naik pesawat sehingga g terlalu sulit membayangkan suasananya. :P